DINAMIKA PERTUNJUKAN DABUIH DI KANAGARIAN LUBUH AUH KECAMATAN BAYANG KABUPATEN PESISIR SELATAN

Ali Darsono

Abstract


Kesenian dabuih yang ada di lubuk Aur dimulai sejak tahun 1922 yang diperkenalkan oleh Dt. Sirajo Bujang. Konon menurut cerita dari tua dabuih (sesepuh dabuih) di daerah tersebut. Kesenian dabuih yang ada dikenagarian  Lubuk Auh berasal dari daerah Pariaman. Kemudian dibawa oleh Dt. Sirajo Bujang ke kabupaten Pesisir Selatan tepatnya dikecamatan Bayang. Kesenian dabuih merupakan aktivitas awalnya dalam bentuk pertunjukan yang diidentifikasi berkembang dikalangan pengajian tarekat (kaum sufi) yang mana dabui sebagai media evaluasi pada sasaran silat (perguruan silat) di samping itu juga sebagai sarana dakwah penyebaran ajaran islam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan bagaimana proses perubahan dabui dan faktor-faktor dibalik itu. Penelitian ini berbetuk deskriptif dengan menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian yang didapat adalah  proses perubahan pertunjukan kesenian dabuih berawal pada tahun 1965 pada masa kepemimpinan (kalipah) Angku Wahab yang mana kesenian dabuih terdiri tiga atraksi namun secara berangsur-angur mulai terjadi pengurangan porsi pada atraksi pertunjukan. Atraksi dabuih yang pertama dihilangkan adalah atraksi dabuih rantai, kemudian lebih kurang 10 tahun kemudian menyusul dabui kaca, peristiwa ini terjadi pada tahun 1965. Pada masa kulipah Angku Nyamat tahun 1975 atraksi pertunjukan tinggal satu yakni dabuih tusuk jarum yang diwariskan kepada Barakat. Terjadinya perubahan pada kesenian dabuih  disebabkan adanya perbedaan tingkatan level tarekat pada pertunjukan dabuih.

 

Kata Kunci: dabuih, proses perubahan, dan faktor


Full Text: Untitled PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.