Pengaruh Kepimpinan Negara- Negara di Asia Dalam Refomasi Birokrasi Indonesia

Fitrisia Munir

Abstract


Tulisan ini mengutip sedikit konsep birokrasi lama yang dikembangkan oleh seorang ilmuwan sosial, Max Weber. Max Weber {1864-1920) menjelaskan birokrasi sebagai desain organisasi yang berpengaruh sebagai sistem abstrak untuk pemecahan masalah manajemen negara yang rasional tanpa adanya gesekan yang disebabkan oleh kesalahan dan emosi manusia. Menurut Weber, "organisasi birokrasi adalah sarana yang paling rasional untuk melakukan kontrol imperatif atas manusia". 'Teori birokrasi didasarkan pada sifat hubungan otoritas dalam organisasi. Ini terkait dengan bagaimana organisasi benar-benar beroperasi daripada bagaimana mereka harus berfungsi.Weber memvisualisasikan model birokrasi sebagai penataan kekuatan yang teratur untuk mencapai perilaku manusia yang rasional di bawah hierarki profesional. Dalam hal ini, birokrasi sekarang menjadi tonggak untuk menjalankan Negara yang berdaya saing dan berkembang dari segi pola pikir seorang pemimpin terhadap masyarakatnya menuju pemerintahan yang baik atau good governance. Reformasi Birokrasi Indonesia dimulai pada tahun 1998 sebagai inisiatif kelembagaan yang meningkat ke tingkat nasional di tahun 2008. Reformasi birokrasi diperlukan agar mencapai tata kelola yang baik & bersih, bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), meningkatkan kualitas pelayanan publik, meningkatkan kapasitas dan akuntabilitas kinerja. Birokrasi harus menghasilkan profesionalisme aparat yang didukung oleh perekrutan personil dan promosi berbasis kompetensi, transparan, dan mampu mendorong mobilitas personil antara daerah, antar pusat, dan antara pusat dan daerah, serta mendapatkan gaji dan bentuk kesejahteraan lainnya. Munculnya reformasi birokrasi di setiap Negara-negara di Asia mengakibatkan ketatnya peluang masing-masing Negara untuk bersaingmenjalankan roda pemerintahan yang berdasarkan pada Otoritas hukum rasional. Setiap pemimpin suatu Negara di tuntut untuk tegas dan bisa menyeimbangkan keadaan dan cara pandang mereka dalam mengatasi persoalan negaranya. Kegagalan birokrasi di lihat dari kepemimpinan yang kurang memiliki figur-figur reformis tetapi malah menjadikan figur panutan yang berharap akan memberikan perubahan. Sebaliknya, Birokrasi itu baru bisa dikatakan berhasil bila dapat meningkatkan kualitas pelayanan di satu sisi, sekaligus menciptakan pemerintahan yang bersih dan akuntabel di sisi yang lain.


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


View My Stats